Lean Supply Chain Management sebagai bagian indikator kinerja dalam industri manufaktur

Perkembangan teknologi dan globalisasi saat ini berdampak pada tingkat persaingan bisnis global yang terjadi semakin tajam. Salah satu langkah penting dilakukan perusahaan untuk mampu bersaing dalam persaingan bisnis global adalah dengan menggunakan strategi bisnis yang kompetitif. Dalam mewujudkan hal tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan memahami konsep-konsep rantai pasok dalam hal pemenuhan kebutuhan pelanggan dan mendistribusikan produk ke tangan pemakai akhir dengan baik.

Terkait dengan Supply Chain Management (SCM), Whitten (2004) mendefinisikan SCM sebagai sebuah pendekatan yang mengoptimalkan proses bisnis pengadaan bahan baku sampai kepada distribusi barang jadi dengan mengintegrasikan secara langsung sistem informasi logistik yang dikelola oleh organisasi denganĀ  sistem yang ada pada pemasok dan distributor. Sedangkan menurut Turban (2002), SCM ialah perencanaan dan pengendalian arus asal barang dan material, sampai dengan produksi dan pengirimannya ke konsumen, sehingga dapat mencapai tujuan untuk sampai ke pasar lebih cepat, mengurangi tingkat persediaan, biaya yang lebih rendah dan meningkatkan layanan bagi pelanggan.

Pendekatan lean pada rantai pasok merupakan salah satu strategi yang dapat menjadi keunggulan kompetitif perusahaan. Lean adalah upaya terus-menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah produk (barang/jasa) agar memberikan nilai kepada pelanggan (Gaspersz, 2007). Pada dasarnya pendekatan lean bertujuan untuk meningkatkan nilai kepada pelanggan (customer value) dengan meningkatkan rasio value added terhadap waste secara terus-menerus.

Menurut Gasperz (2007), pendekatan lean memiliki lima prisip dasar sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi nilai produk berdasarkan perspektif pelanggan, dimana pelanggan menginginkan produk berkualitas superior, dengan harga yang kompetitif dan penyerahan pada waktu yang tepat.
  2. Memetakan proses pada value stream untuk setiap produk.
  3. Menghilangkan pemborosan dari semua aktivitas sepanjang proses value stream
  4. Mengorganisasikan agar material, informasi, dan produk mengalir secara lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik (pull system).
  5. Senantiasa mencari berbagai teknik dan alat peningkatan untuk mencapai keunggulan dan perbaikan terus-menerus.

Lean Supply Chain Management (LSCM) merupakan strategi rantai pasok yang didasarkan pada biaya dan pengurangan waktu proses rantai pasok keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas. Fokus LSCM adalah upaya mengoptimalkan proses dari semua rantai pasok, mencari penyederhanaan, mengurangi limbah dan mengurangi kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah (Machado dan Duarte, 2010). Dengan menerapkan konsep-konsep LSCM perusahaan diharapkan dapat meminimasi kegiatan yang tidak bernilai tambah dan dapat menekan biaya produksi sehingga produktivitas dapat ditingkatkan tetapi tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga.

Menurut Shah (2007), beberapa karakteristik dari LSCM yaitu:

  1. Umpan balik dari pemasok
  2. Pengiriman secara Just In Time (JIT) oleh pemasok
  3. Pengembangan pemasok,
  4. Keterlibatan pelanggan,
  5. Pull system (sistem tarik)
  6. Aliran yang kontinu,
  7. Mengurangi waktu set up
  8. Total Productive Maintenance
  9. Kontrol proses statistik
  10. Keterlibatan karyawan.

===xxxx======

Reference:

Gaspersz, V. 2007. Lean Six Sigma. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Shah, R. dan Ward, P.T. (2007). Defining and developing measures of lean production. Journal of Operations Management. 25, 785-805

Turban, E., R. K. Rainer dan R. E. Potter. 2002. Introduction to information technology Wiley International. 3th Edition. Pennsylvania State University

Whitten, J.L., Bentley, L.D., Dittman, K.C. (2004). Systems Analysis and Design Methods. Indianapolis: McGraw-Hill Education.